Info Detail
Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan
Purwokerto, 11 Mei 2026 — Jurusan Farmasi Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman (FIKes UNSOED) menyelenggarakan kegiatan Konsinyering Laporan Evaluasi Diri Akreditasi Program Studi Sarjana Farmasi dan Program Profesi Apoteker pada Senin, 11 Mei 2026, pukul 08.00–16.00 WIB. Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam proses penguatan budaya mutu dan peningkatan kualitas akademik secara berkelanjutan menuju capaian Akreditasi Unggul sesuai standar Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Kesehatan Indonesia (LAM-PTKes).
Acara dihadiri oleh jajaran pimpinan Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan UNSOED, yakni Dekan FIKes UNSOED Prof. Dr. sc. hum. Budi Aji, SKM., M.Sc., Wakil Dekan I Prof. Yunita Sari, S.Kep., Ns., MHS., Ph.D., Wakil Dekan II Siti Harwanti, S.Kp., M.Kes., serta Wakil Dekan III Moh. Nanang Himawan Kusuma, S.Pd., M.Sc.SportMed. Kegiatan juga menghadirkan dua asesor dari Lembaga Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pembelajaran (LPMPP) Universitas Jenderal Soedirman, yaitu Dr. Muhammad Yamin, S.IP., M.Si. dan Krissandi Wijaya, S.TP., M.Agr.Sc., Ph.D.
Konsinyering ini diikuti oleh seluruh dosen Jurusan Farmasi UNSOED sebagai bentuk keterlibatan kolektif dalam penyusunan dan penyempurnaan dokumen evaluasi diri Program Studi Sarjana Farmasi dan Program Profesi Apoteker.
Evaluasi Diri sebagai Fondasi Budaya Mutu
Meskipun peninjauan dan monitoring mutu telah rutin dilaksanakan melalui berbagai mekanisme evaluasi internal, kegiatan konsinyering tetap dipandang sangat penting. Forum ini menjadi ruang strategis untuk melakukan telaah yang lebih mendalam, menyatukan persepsi, memperkuat validitas data, serta memastikan bahwa seluruh indikator mutu telah dianalisis secara komprehensif sesuai instrumen akreditasi kualitatif LAM-PTKes.
Dekan FIKes UNSOED, Prof. Dr. sc. hum. Budi Aji, SKM., M.Sc., menyampaikan bahwa evaluasi diri bukan sekadar kewajiban administratif dalam proses akreditasi, melainkan instrumen refleksi institusi untuk melihat kekuatan, tantangan, peluang pengembangan. walaupun sudah sering dilakukan peninjauan oleh tim dari FIKES, tapi tetap di butuhkan peninjauan dari perspektif luar FIKES agar lebih konprehensif untuk keberlanjutan mutu program studi, menuju Akreditasi Unggul.
Pembahasan Mendalam Berdasarkan Kriteria LAM-PTKesDalam konsinyering ini, seluruh komponen evaluasi diri dibahas secara sistematis berdasarkan kriteria pada instrumen akreditasi LAM-PTKes. Setiap tim melakukan penelaahan mendalam terhadap data, narasi analisis, capaian indikator, hingga strategi tindak lanjut pengembangan program studi.
Pembahasan dimulai dari aspek visi, misi, tujuan, dan strategi (VMTS) program studi. Tim mengevaluasi sejauh mana VMTS Program Studi Sarjana Farmasi dan Program Profesi Apoteker telah selaras dengan visi universitas dan fakultas, sekaligus mampu menjawab kebutuhan perkembangan ilmu kefarmasian, pelayanan kesehatan, serta tantangan global di bidang farmasi. Penajaman arah pengembangan dan keunggulan program studi juga menjadi fokus penting dalam diskusi.
Selanjutnya, pada aspek tata pamong, tata kelola, dan kerja sama, forum membahas efektivitas sistem manajemen program studi, penguatan tata kelola berbasis akuntabilitas dan transparansi, serta keberlanjutan jejaring kerja sama dengan institusi pendidikan, fasilitas pelayanan kesehatan, dunia industri farmasi, organisasi profesi, dan mitra internasional. Kualitas tata kelola dipandang sebagai fondasi utama dalam menjaga keberlangsungan mutu akademik.
Pada aspek mahasiswa, pembahasan mencakup sistem rekrutmen, pembinaan kemahasiswaan, prestasi akademik dan non-akademik, pelayanan mahasiswa, hingga pengembangan kapasitas mahasiswa dalam bidang kepemimpinan, penelitian, kewirausahaan, dan pengabdian masyarakat. Program studi juga mengevaluasi strategi peningkatan daya saing mahasiswa di tingkat nasional maupun internasional, Serta keselamatan mahasiswa.
Kriteria sumber daya manusia menjadi salah satu fokus utama dalam konsinyering. Tim menelaah profil dosen dan tenaga kependidikan, kualifikasi akademik, jabatan fungsional, produktivitas tridarma, serta pengembangan kompetensi berkelanjutan. Pembahasan juga diarahkan pada strategi peningkatan kualitas dosen melalui studi lanjut, sertifikasi kompetensi, publikasi ilmiah, kolaborasi riset, dan penguatan jejaring akademik.
Pada aspek keuangan, sarana, dan prasarana, dilakukan evaluasi terhadap kecukupan fasilitas pembelajaran, laboratorium, sarana praktik, teknologi informasi, serta dukungan pembiayaan dalam mendukung proses pendidikan dan pengembangan institusi. Ketersediaan fasilitas yang representatif dipandang sangat penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang berkualitas dan adaptif terhadap perkembangan teknologi kefarmasian.
Pembahasan kemudian berlanjut pada aspek pendidikan, termasuk implementasi kurikulum berbasis capaian pembelajaran, integrasi pembelajaran teoritis dan praktik, metode pembelajaran aktif, sistem evaluasi pembelajaran, serta kesiapan lulusan menghadapi dinamika pelayanan kefarmasian dan kebutuhan dunia kerja. Program studi juga melakukan refleksi terhadap implementasi pembelajaran yang berorientasi pada kompetensi, profesionalisme, dan keselamatan pasien.
Pada aspek penelitian, konsinyering menelaah produktivitas riset dosen dan mahasiswa, relevansi tema penelitian dengan pengembangan ilmu kefarmasian dan kebutuhan masyarakat, publikasi ilmiah, perolehan hibah penelitian, serta kontribusi penelitian terhadap pengembangan pembelajaran dan inovasi kesehatan. Penelitian dipandang sebagai salah satu indikator penting dalam membangun reputasi akademik program studi.
Sementara itu, aspek pengabdian kepada masyarakat difokuskan pada kebermanfaatan program bagi masyarakat, integrasi hasil penelitian dalam kegiatan pengabdian, pemberdayaan masyarakat berbasis kesehatan, serta keterlibatan dosen dan mahasiswa dalam peningkatan kualitas hidup masyarakat melalui pendekatan kefarmasian dan promotif-preventif.
Selain itu, forum juga membahas secara mendalam aspek luaran dan capaian tridarma, termasuk masa tunggu lulusan, tingkat kelulusan uji kompetensi, serapan lulusan di dunia kerja, kepuasan pengguna lulusan, rekognisi dosen dan mahasiswa, hingga kontribusi program studi dalam pengembangan keilmuan dan pelayanan kesehatan. Analisis terhadap data luaran dilakukan untuk memastikan bahwa capaian program studi benar-benar mencerminkan kualitas lulusan yang kompeten, profesional, dan berdaya saing.

Kehadiran seluruh dosen dalam kegiatan ini menunjukkan kuatnya komitmen kolektif Jurusan Farmasi FIKes UNSOED dalam menjaga kualitas penyelenggaraan pendidikan tinggi kesehatan. Budaya diskusi, keterbukaan terhadap evaluasi, serta kolaborasi antarunit menjadi modal penting dalam membangun institusi pendidikan yang unggul dan adaptif.
Pelaksanaan kegiatan turut mendapat dukungan penuh dari tim Kepegawaian/Tata Usaha FIKes UNSOED yang dikoordinasikan oleh Sulistyo Ekowati, S.Si., M.M., sehingga seluruh rangkaian acara dapat berlangsung dengan baik dan produktif.
Melalui kegiatan konsinyering ini, Jurusan Farmasi FIKes UNSOED optimistis dapat semakin memperkuat kualitas tata kelola akademik, meningkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan, serta mewujudkan Program Studi Sarjana Farmasi dan Program Profesi Apoteker yang unggul, profesional, dan berdaya saing di tingkat nasional maupun internasional.