Info Detail

Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan

  • Optimasi Seasoning Powder Fungsional Berbasis Hidrolisat Protein Ikan Wader (Rasbora Argyrotaenia) Sebagai Strategi Pencegahan Stunting Pada 1000 Hari Pertama Kehidupan

    • 13,Apr 2026
    • Posted By : Dyah Umiyarni Purnamasari
    • 0 Comments
    • Artikel Mahasiswa Ilmu Gizi
     

    Penulis:

    Najwa Syifa (Mahasiswa  Berprestasi  Ilmu Gizi FIKES UNSOED/ I1D023070)

     

    LATAR BELAKANG

     Stunting merupakan kondisi terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan fisik anak akibat asupan gizi yang buruk serta infeksi kronis. World Health Organization (WHO) mendefinisikan stunting sebagai gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang dialami anak-anak akibat gizi buruk, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai. Anak-anak dapat dikategorikan sebagai stunting apabila tinggi badan aktual kurang dari melebihi -2 SD median Standar Pertumbuhan Anak WHO. Pada tahun 2022, prevalensi stunting secara global mencapai angka 22,3% atau 148,1 juta balita di dunia mengalami stunting dengan 76,6 juta diantaranya berasal dari wilayah Asia (UNICEF, 2022). Sementara itu, Indonesia diperkirakan menyumbang 4,7% kasus stunting dari seluruh kasus stunting di dunia. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2022, prevalensi stunting di Indonesia mencapai angka 21,6%, kemudian relatif stagnan hingga tahun 2023 yaitu sebesar 21,5%. Di wilayah Banyumas sendiri, prevalensi stunting berdasarkan SSGI tahun 2022 mencapai angka 16,6%. Temuan ini sangat mengkhawatirkan sebab prevalensi stunting masih belum mendekati target penurunan angka stunting dalam RPJMN 2020-2024 yang menargetkan prevalensi stunting sebesar 14% pada tahun 2024.

    Salah satu solusi yang dapat mendukung penurunan angka kejadian stunting adalah melalui pemanfaatan pangan lokal sebagai sumber gizi berkelanjutan dan mudah diakses oleh masyarakat. Pangan lokal merupakan pangan yang diproduksi, dipasarkan, dan dikonsumsi oleh masyarakat setempat (Litbang, 2020). Wilayah Banyumas, terdapat komoditas lokal yang kaya akan protein berkualitas tinggi, namun pemanfaatannya masih terbatas, yaitu ikan wader. Ikan wader (Rasbora argyrotaenia) memiliki kandungan protein yang tinggi sebesar 14,8% dengan asam amino esensial seperti leusin, valin, isoleusin, histidin, metionin, glutamat, aspartat, glisin, dan lisin, sehingga dapat diolah menjadi menjadi seasoning powder yang memiliki kandungan protein tinggi dengan asam amino esensial dan non-esensial yang beragam (Lim et al., 2015; Sari, 2015; Soganti et al., 2019). Lisin pada ikan wader berperan dalam penyerapan kalsium dan produksi hormon yang penting selama kehamilan dan menyusui (Majid et al., 2024). Asam glutamat dan aspartat mendukung fungsi saraf dan perkembangan otak bayi selama periode 1000 HPK (Husna et al., 2023). Kandungan asam amino tersebut sangat bermanfaat bagi ibu hamil dan menyusui karena mampu berkontribusi pada pemenuhan kebutuhan akan protein dan asam amino esensial untuk mendukung pertumbuhan janin, memperbaiki jaringan ibu pasca melahirkan, dan memperkuat sistem imunitas tubuh. Selain itu, kandungan gizi pada seasoning powder ini diperkaya pula melalui fortifikasi MMn, yaitu proses penambahan tiga atau lebih mikronutrien yang berbeda pada bahan pangan, sehingga diharapkan dapat memenuhi kebutuhan mikronutrien ibu hamil dan ibu menyusui. Dengan fortifikasi yang tepat, seasoning powder dengan basis ikan wader dapat memberikan nilai gizi yang bermutu dengan karakteristik organoleptik yang dapat diterima oleh masyarakat, terutama pada ibu hamil dan ibu menyusui sebagai sasaran pengelolaan stunting, sehingga dapat mendukung konsumsi yang berkelanjutan dan efektif dalam mengurangi angka stunting secara bertahap

    Kegiatan mengonsumsi ikan wader sebagai sumber protein lokal yang melimpah dapat memenuhi kebutuhan gizi harian ibu hamil dan ibu menyusui secara lebih optimal, sekaligus mendukung kesehatan dan tumbuh kembang anak secara holistik. Ikan wader yang kaya protein dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan solusi berkelanjutan melalui pendekatan komoditas lokal daerah yang lebih mudah dijangkau oleh masyarakat setempat, seperti produk seasoning powder.

    Sebagai implementasi pilar 2 SDGs (Tanpa Kelaparan), pemanfaatan hidrolisat protein ikan wader dapat menyediakan sumber gizi esensial bagi masyarakat dan memperkuat ketahanan pangan di daerah rawan stunting. Sebagai implementasi pilar 3 SDGs (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), seasoning powder dengan hidrolisat protein ikan wader meningkatkan bioavailabilitas protein melalui hidrolisis dapat mendukung kesehatan masyarakat secara keseluruhan. Sebagai implementasi pilar 5 SDGs (Kesetaraan Gender), pemanfaatan hidrolisat protein ikan wader dapat memberdayakan perempuan, terutama di daerah pesisir dan memberikan kebebasan atas keputusan terkait kesehatan dan gizi. Produk ini sangat bermanfaat bagi ibu hamil dan menyusui, karena protein berkualitas dari ikan wader membantu pemenuhan gizi, mendukung pertumbuhan bayi, dan mempercepat pemulihan pasca-persalinan. Atas kebermanfaatannya yang sangat tinggi, seasoning powder dari hidrolisat protein ikan wader dapat membantu meningkatkan konsumsi makanan sehat, memperbaiki status gizi anak dan ibu, berkontribusi langsung pada upaya penurunan angka stunting di Indonesia, serta mendukung kesetaraan gender.

    METODE

    Desain yang digunakan adalah  Narrative Literature Review (NLR), yaitu metode kajian pustaka yang bertujuan untuk mengidentifikasi, mengkaji, dan mensintesis hasil-hasil penelitian terdahulu secara deskriptif dan interpretatif. Strategi penelusuran literatur sebagai sumber informasi dilakukan dengan cara mengakses electronic database secara online dari Pubmed, Google Scholar, dan ScienceDirect. Artikel yang dipilih, dicari dengan menggunakan kata kunci “hydrolysate and stunting”, “fish protein hydrolysate and pregnancy”, “fish protein hydrolysate and breastfeeding”, “protein hydrolysate and MMn and pregnancy”, “protein hydrolysate and MMn and breastfeed”. Artikel penelitian yang sesuai dengan kriteria inklusi kemudian dikumpulkan dan dibuat ringkasan jurnal. Sebanyak  5 artikel terpilih kemudian dianalisis (tahun 2020-2026). Masing-masing ringkasan jurnal tersebut kemudian dilakukan analisis isi yang terdapat dalam hasil atau temuan penelitian.

    HASIL DAN PEMBAHASAN

    Protein merupakan komponen esensial dalam pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan tubuh. Dalam bentuk hidrolisat, protein telah terdegradasi menjadi peptida dan asam amino sederhana yang lebih mudah diserap oleh tubuh, sehingga meningkatkan efisiensi utilisasi protein.

    Studi oleh Rahayu et al. (2026) menunjukkan bahwa pemberian fish protein hydrolysate (FPH) secara signifikan meningkatkan berat badan, kadar albumin, dan total protein pada model hewan stunting. Hasil ini diperkuat oleh Asmak et al. (2020) yang melaporkan peningkatan kadar albumin setelah pemberian FPH.

    Albumin merupakan indikator penting status protein tubuh dan berperan dalam transpor nutrien serta menjaga keseimbangan cairan. Oleh karena itu, peningkatan albumin mencerminkan adanya perbaikan status gizi secara sistemik. Temuan ini menunjukkan bahwa FPH memiliki potensi sebagai sumber protein yang efektif, khususnya pada kondisi defisiensi gizi.

    Hasil studi Sartika et al., (2025)  menunjukkan bahwa intervensi pangan berbasis ikan mampu meningkatkan tinggi badan balita secara signifikan Selain itu, Simorangkir et al. (2024) menunjukkan bahwa konsumsi protein hewani berkorelasi dengan penurunan risiko stunting.

    Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan kualitas asupan protein, khususnya dari sumber ikan, berperan penting dalam mendukung pertumbuhan linier anak. Dengan demikian, intervensi berbasis protein hewani dapat menjadi strategi yang efektif dalam pencegahan stunting.

    Selain manfaat biologis, protein hidrolisat ikan juga memiliki potensi besar dalam pengembangan pangan fungsional. Studi oleh Rachmawati et al. (2025) menunjukkan bahwa fortifikasi FPH dalam produk biskuit dapat meningkatkan kandungan protein tanpa menurunkan daya terima konsumen. Hal ini menunjukkan bahwa FPH dapat diintegrasikan ke dalam produk pangan sehari-hari sebagai bentuk intervensi gizi yang praktis dan aplikatif. Selain itu, karakteristik FPH yang kaya akan asam amino bebas memberikan cita rasa umami alami, sehingga berpotensi meningkatkan palatabilitas produk pangan.

    Berdasarkan keseluruhan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa protein hidrolisat ikan memiliki potensi tidak hanya sebagai sumber nutrisi, tetapi juga sebagai bahan baku inovatif dalam pengembangan pangan fungsional. Dalam konteks ini, pemilihan bahan baku menjadi aspek penting untuk mendukung keberlanjutan dan ketersediaan produk. Salah satu sumber protein lokal yang potensial adalah ikan wader (Rasbora argyrotaenia), yang memiliki kandungan protein cukup tinggi serta ketersediaan yang melimpah di perairan Indonesia. Pemanfaatan ikan wader selama ini masih terbatas pada konsumsi langsung, sehingga pengolahannya menjadi protein hidrolisat merupakan langkah strategis dalam meningkatkan nilai tambah.

    Lebih lanjut, karakteristik FPH yang memiliki rasa umami alami menjadikannya sangat potensial untuk dikembangkan dalam bentuk seasoning powder. Produk ini tidak hanya berfungsi sebagai penyedap rasa, tetapi juga sebagai media fortifikasi protein yang dapat meningkatkan nilai gizi makanan sehari-hari.

    Dengan demikian, pengembangan seasoning powder berbasis protein hidrolisat ikan wader merupakan bentuk inovasi yang mengintegrasikan aspek gizi, teknologi pangan, dan pemanfaatan sumber daya lokal. Pendekatan ini memiliki potensi sebagai strategi intervensi berbasis pangan (food-based intervention) dalam upaya pencegahan stunting, khususnya pada periode 1000 HPK.

    Selain berperan sebagai bahan baku sintesis protein, asam amino esensial dari hidrolisat protein ikan terbukti mampu mendukung regulasi jalur pertumbuhan anak. Hal ini didukung dengan temuan pada studi yang dilakukan oleh Nesse et al. (2011), pemberian hidrolisat ikan salmon dengan kandungan asam amino esensial, di/tri peptida, dan vitamin menunjukkan hasil signifikan dalam meningkatkan indeks massa tubuh dan imunitas anak. Mekanisme ini berkaitan dengan kandungan asam amino esensial, seperti leusin, isoleusin, valin, histidin, dan lisin pada hidrolisat protein ikan sehingga mampu meningkatkan sensor mTORC1. mTORC1 adalah kompleks protein yang mengatur metabolisme dan pertumbuhan sel sebagai respons terhadap sinyal gizi, pertumbuhan, dan onkogenik (Villa et al., 2021). Jika mTORC1 telah diaktifkan, maka akan berdampak positif terhadap beberapa proses metabolisme tubuh, sistem imunitas tubuh, hemopoesis, metabolisme zat besi, pertumbuhan tulang, serta pembentukan sel-sel otak (Parikh et al., 2022).

    Selain hidrolisat protein ikan wader, seasoning powder juga difortifikasi MMn agar pemenuhan terhadap mikronutrien menjadi lebih optimal. Mikronutrien sangat diperlukan, terutama oleh ibu hamil di masa prenatal dan ibu menyusui. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh WD et al. (2024), terdapat perbedaan signifikan antara berat badan ibu hamil sebelum dan sesudah diberikan suplementasi MMn dengan zat besi dan asam folat sehingga dapat mengurangi 8% resiko kelahiran prematur atau Small for Gestational Age (SGA) dan 12% resiko kelahiran dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Begitu pula dengan vitamin A yang sangat dibutuhkan saat kehamilan dan menyusui. Kandungan vitamin A dalam ASI dipengaruhi oleh pola makan ibu selama masa kehamilan dan menyusui, di mana kadar vitamin A selama kehamilan secara langsung terkait dengan kadar vitamin A dalam ASI, sehingga fortifikasi vitamin A sangat diperlukan untuk mencegah defisiensi vitamin A yang dapat berdampak pada perkembangan sel-sel anak (Klevor et al., 2014).

    Dengan mengintegrasikan hidrolisat protein ikan wader dengan fortifikasi MMn, dapat menjadi langkah strategis untuk meningkatkan mutu gizi masyarakat dan mendukung upaya pencegahan stunting secara berkelanjutan, terutama di daerah rawan gizi. Pemanfaatan pangan lokal ini menjadi solusi praktis dan berkelanjutan untuk mempercepat penurunan angka stunting dan menciptakan generasi yang lebih sehat dan kuat.

    REFERENSI

    Asterini, W., Sugiyono, S., Hoerudin, H., & Prangdimurti, E. (2019). Pengaruh Fortifikasi Vitamin A dan Zat Besi Terenkapsulasi pada Tepung Ubi Kayu dan Aplikasinya pada Pembuatan Flakes. agriTECH, 38(4), 424-432.

    Hayana, I., & Lasepa, W. (2023). Hubungan Asupan Gizi Ibu Hamil Dengan Kejadian Stunting Metode Systematic Review. Jurnal Kesehatan Tambusai, 4(4), 7095-7103.

    Husna, H., Verawati, B., & Isnaeni, L. M. A. (2023). Formulasi Kerupuk Terikel Dengan Penambahan Ikan Teri dan Tepung Daun Kelor Sebagai Makanan Tinggi Protein Khas Kabupaten Kuantan Singingi. Jurnal Kesehatan Tambusai, 4(2), 273-294.

    Klevor, M. K. (2014). Breast Milk Retinol Concentrations of Ghanaian Women: Effect of Lipid-Based Nutrient Supplements Taken During Pregnancy and the First 6 Months Postpartum, and Associations with Maternal Dietary Patterns and Sociodemographic Factors. University of California, Davis.

    Kusnadi, I. H., & Suparman, A. (2020). Kinerja Unit Pelayanan Teknis Daerah Rumah Potong Hewan. The World of Public Administration Journal.

    Laily, L. A., & Indarjo, S. (2023). Literature Review: Dampak Stunting terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Anak. HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development), 7(3), 354-364.

    Leniwati, L. (2021). Analisis Status Gizi Terhadap Tumbuh Kembang Anak Usia Dini 4 €“6 Tahun Di Tk Candra Jaya Jakarta Barat. Jurnal Pendidikan Rokania, 6(3), 295.

    Lim, L. S., Chor, W. K., bin Firdaus, R. F., Malitam, L., Ransangan, J., & Shapawi, R. (2015). Proximate and amino acid compositions of the pond-cultured spotted barb, Puntius binotatus. Malaysian Journal of Science, 34(2), 168-171.

    Majid, M., Ilmi, N., & Ramlan, P. (2024). Pencegahan Stunting dengan Ikan Lele dan Daun Kelor. Penerbit NEM.

    Nesse, K. O., Nagalakshmi, A. P., Marimuthu, P., & Singh, M. (2011). Efficacy of a fish protein hydrolysate in malnourished children. Indian Journal of Clinical Biochemistry, 26, 360-365.

    Nurvembrianti, I., Purnamasari, I., & Sundari, A. (2021). Pendampingan ibu hamil dalam upaya peningkatan status gizi. Jurnal inovasi dan terapan pengabdian masyarakat, 1(2), 50-55.

    Nusril, R., Suhartini, W., & Rahmadi, I. (2025). Karakteristik Organoleptik Dan Sifat Fisik Mi Kering Dengan Penambahan Daging Ikan Wader (Rasbora jacobsoni). Jurnal Sains dan Teknologi Pangan, 10(1).

    Oumer, A., Fikre, Z., Girum, T., Bedewi, J., Nuriye, K., & Assefa, K. (2022). Stunting and underweight, but not wasting are associated with delay in child development in southwest Ethiopia. Pediatric Health, Medicine and Therapeutics, 1-12.

    Parikh, P., Semba, R., Manary, M., Swaminathan, S., Udomkesmalee, E., Bos, R., … & Nga, T. T. (2022). Animal source foods, rich in essential amino acids, are important for linear growth and development of young children in low‐and middle‐income countries. Maternal & Child Nutrition, 18(1), e13264.

    Parwati, M. A., & Suryani, T. (2019). Uji Protein Dan Organoleptik Penyedap Rasa Alami Komposisi Jamur Kancing Dan Ikan Tongkol Dengan Variasi Suhu Pengeringan (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Surakarta).

    Prayudi, A., & Yuniarti, T. (2022). Karakteristik kimia hidrolisat protein dan penguat rasa dari hasil samping fillet ikan kakap (Lutjanus sp) yang dihidrolisis secara enzimatis. Buletin Jalanidhitah Sarva Jivitam, 4(2), 103-111.

    Sari, D. K., Marliyanti, S. A., Kustiyah, L., Khomsan, A., & Gantohe, T. M. (2014). Bioavailabilitas Fortifikan, Daya Cerna Protein, serta Kontribusi Gizi Biskuit yang Ditambah Tepung Ikan Gabus (Ophiocephalus striatus) dan Difortifikasi Seng dan Besi. Agritech, 34(4), 359-364.

    Sari, T. N. (2015). Karakterisasi Hidrolisat Protein Ikan Wader (Rasbora jacobsoni) secara Enzimatis dengan Enzim Protease dari Tanaman Biduri (Calotropis gigantea).

    Sembor, S. M., & Tinangon, R. (2022). Industri Pengolahan Daging.

    Sogandi, S., Sanjaya, R. E., Baity, N., & Syahmani, S. (2019). Identifikasi kandungan gizi dan profil asam amino dari ikan seluang [rasbora sp](identification of nutritional content and profiles of amino acid from seluang fish [Rasbora Sp]). Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research), 42(2), 73-80.

    Tam, E., Keats, E. C., Rind, F., Das, J. K., & Bhutta, Z. A. (2020). Micronutrient supplementation and fortification interventions on health and development outcomes among children under-five in low-and middle-income countries: a systematic review and meta-analysis. Nutrients, 12(2), 289.

    Villa, E., Sahu, U., O’Hara, B. P., Ali, E. S., Helmin, K. A., Asara, J. M., … & Ben-Sahra, I. (2021). mTORC1 stimulates cell growth through SAM synthesis and m6A mRNA-dependent control of protein synthesis. Molecular cell, 81(10), 2076-2093.

    WD, S. M., Lestari, C. I., & Cahyaningtyas, D. K. (2024, August). The Multi-micronutrient supplementation for weight gain of pregnant women with CED in West Lombok Regency. In Proceeding Women, Family, and Disaster International Conference (Vol. 1, pp. 13-19).

    Zen, H. M., Nurcahyo, F. D., Husna’putri, N. A., Nurwulandari, M., Naim, D. M., & Setyawan, A. D. (2024). The potential of wader fish (Puntius spp.) as a source of food, medicine, and traditional use. Asian Journal of Tropical Biotechnology, 21(2).

Leave A Comment